Sebelum nonton teater KRST gue penasaran ceritanya gimana, Moksha bilang, teater anak Psikologi gelap, biasanya erotis. Gue sontak kebayang-bayang di kursi penonton sambil nunggu teater mulai.

Perjalanan gue ke TBY cukup awal, gak paling sih, biasa-biasa aja. Sepanjang perjalanan gue liat banyak banget burung terbang, hinggap di kabel dan tiang-tiang. Entah menyambut musim pasca-orba, atau musim kawin, gue ga tau juga. Mungkin gue rasa burung-burung protes, hutannya hilang dan mereka pun invansi ke kota dengan semangat melawan, haha sotoy.

Sebelum ke kursi penonton gue rakab sedikit, iya sedikit-sedikit nambah, sebat aja kayaknya ga cukup untuk ngadepin teater gelap yang bakal gue nonton nanti. Pas rasanye cukup gue masuk beli tiket, lumayan nunggu lama mulainya. Sambil nunggu, gue keluar rakab lagi, serasa cukup, gue balik masuk ke kursi pojok sebelah kiri ke arah panggung. Agak lama gue nunggu, gue keluar lagi, serasa cukup, gue masuk lagi. Sekian lama menunggu, teater dibuka oleh MC yang rasanya gue mulai jadi atlet lompat jauh.

MCnya kaku kaya penyiar TVRI 80an, penonton di sebelah gue rasanya udah males nanggepin MCnya, tapi gue nikmatin aja, rasanya kaya nonton wayang jepang. Yang gue kaget, MC menyuru kita berdoa sebelum pementasan dimulai, gue heran, ini teater apa lomba Pildacil, sekularitas mulai ngoceh nih haha. Tapi gpp, ambil positifnya aja, sesuatu yang baik, untuk mengingat tuhan dalam setiap aktivitas.

Adegan pertama, penonton diajak menyaksikan gadis SMA bunuh diri di kamarnya. Setelah siaran TV yang memberitakan matinya gadis itu, datang Statik ek, dan Ame Yume sebagai tokoh game character dari si gadis Nike, dan pria durhaka bernama Ryan.

Kedua tokoh karakter berdialog dengan kedua pemiliknya, gue lihat ada semangat cosplay yang sama, dari pakaian tokoh imajiner tersebut. Statik ek di sini merupakan aku yang bukan aku dari Ryan, begitu juga Ame Yume dengan Nike. Ryan dan Nike adalah pecinta game yang luput dari kejaran di luar dunia virtualnya.

Gamer yang kehilangan kontak dengan realitasnya menjadi masalah bagi orang-orang di sekitarnya. Ayah Ryan tidak suka melihatnya bermain terus dan ngstuck di zona nyaman sebagai pengangguran. Ibu Nike juga demikian, ia tidak suka anaknya melakukan sesuatu selain belajar dan berprestasi. Ibu Nike lebih keras dari Ayah Ryan dalam menghadapi anaknya. Dialog-dialog dipenuhi ceramah dari orangtua dan kampanye anti sampah-masyarakat (pengangguran bermain game online), anti-narkoba ("Sekali coba, the end!") sontak gue langsung inget Likin Park, "sekali coba, Chester Bennington!" dan kampanye anti-hedonisme (larangan game online untuk bersenang-senang).

Antartokoh dengan game characternya merupakan id dan ego. Keduanya berada dalam satu tubuh tapi berbeda kepribadian dan putusan. Tetapi yang ku lihat tidak ada "Hode" pada sebuah permainan dalam teater Virtual Realita ini. Sepasang gender yang sesuai. Perdebatan virtual tidak lebih rumit dari perdebatan realitas.

"Aku butuh tempat aku yang jadi aku" rasanya ucapan Nike menceritakan setumpuk buku cerita mengenai ia dengan dunia imajinernya. Dunia realitas tidak bisa menerimanya, begitu juga yang dirasa Ryan ketika diajak ke alun-alun. "Bagaimana kalau ada orang yang lihat saya dalam kondisi seperti ini, kota ini kecil, banyak yang dikenal" sekilas yang ku dengar dari ucapan Ryan kepada dirinya yang lain 'Statik ek'.

Panggung mulai menjadi medan pertempuran antara id dan ego. Sampai di akhir, yang dapat berubah untuk mejalani realitas adalah Ryan, sementara Nike memilih bunuh diri karena merasa tertekan dengan Ibunya serta kehilangan dunia Imajinernya,

Dari sini, peran orangtua sangatlah penting. Seperti lirik Iwan Fals "Orangtua, pandanglah kami sebagai manusia, kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta" menunjukan anak yang tertekan secara psikologis atas sikap orangtua. Dunia virtual atau dunia maya sama kejamnya. Sebagai gambaran, game character dalam teater dipilih sebagai wujud lain dari individu. Akun Instagram pribadi sebenarnya juga sama halnya. Akun Instagram di sini sebagai satu-kesatuan bentuk dari diri individu yang lain, dan dunia kesenangannya yang ada di dunia maya.

Sampai sini, gue takjub dengan penampilan teater KRST. Entahlah, sadar atau engga gue akhirnya nulis juga untuk malam ini.


Read More


oleh: Syahdan Husein


Bahasa merupakan cerminan dari suatu budaya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan Indonesia adalah tugas pemerintah yaitu Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud untuk menjaga, merawat dan memartabatkan Bahasa Indonesa sesuai dengan amanat UU. Selain itu, Bahasa Indonesia wajib digunakan di ruang publik. Televisi merupakan ruang publik. Sudah semestinya pemerintah perlu memerhatikan pola berbahasa di televisi sebab televisi memiliki pengaruh kuat dan membentuk wacana yang masuk ke rumah-rumah untuk menggoyah kebudayaan kita terutama dalam berbahasa Indonesia. Tulisan ini merupakan olahan dari penelitian saya yang berjudul “Breakout NET TV: Analisis Tindak Bahasa Campur Kode. Campur kode di televisi menjadi fenomena budaya populer hari ini. Bahkan perundungan anak Jaksel (Jakarta Selatan) di sosial media menunjukan bagaimana campur kode bahasa Inggris belum dapat diterima dalam masyarakat kita. Penggunaan campur kode juga dapat menggerus rasa nasionalisme di kalangan remaja di Indonesia terutaman dalam berbahasa.

Breakout merupakan acara musik di NET TV. Acara tersebut menyajikan pemutaran video klip baik dari musikus lokal maupun internasional. Breakout mengabarkan berita terkini mengenai sesuatu yang berkaitan dengan musikus dan karyanya. Selain itu, Breakout diisi penuh dengan bincang-bincang bersama musikus yang diundang. Kerap kali di antara kedua pembawa acara dan tamu yang diundang terdapat campur kode pada setiap dialognya.

Campur kode terbagi menjadi dua mancam, yaitu (a) campur kode ke dalam (inner code-mixing) dan campur kode ke luar (outer code-mixing). Campur kode ke dalam terjadi karena penyisipan unsur-unsur yang bersumber dari bahasa asli dengan segala variasi-variasinya, sedangkan campur kode ke luar adalah campur kode yang terjadi karena penyisipan unsur-unsur bersumber dari bahasa asing (Suwito, 1985:76). Hasil penelitian yang diperoleh dari acara Breakout yaitu terdapat campur kode seperti dialek Jakarta dan bahasa Inggris yang digunakan oleh penutur dan lawan tutur. Campur kode dalam bentuk tunggal seperti “hits banget”, dalam bentuk frasa seperti “ada first single”  dan dalam bentuk kalimat“ Alright guys sekarang juga ada salah satu performer dari guest star kita kali ini… Hmmm… Sapaya, sapaya.. Check this out guys”. Tentu dari kata yang dituturkan oleh pembawa memiliki padanannya seperti: lagu pertama, terkenal sekali, baiklah, bintang tamu, dan sebagainya.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa politik yang tentu tidak bisa lepas dari serapan-serapan bahasa lain. Dalam beberapa dekade bahasa Indonesia berkembang dari bahasa melayu pasar hingga ke PUEBI. Pada afiksasinya pun ikut berubah seperti dari bahasa Belanda -ir yaitu (tolerir) menjadi –isasi yaitu (toleransi) yang diadopsi dari bahasa Inggris –itation. Tentu banyak upaya dari pakar-pakar bahasa untuk meng-Indonesiakan setiap kata asing yang ada. Ini merupakan upaya orang Indonesia untuk berdaulat dalam berbahasa. Bukan berarti anti-bahasa asing, tetapi berusaha mengembangkan bahasa Indonesia dengan mencari padanan-padanannya. Oleh karena itu, alangkah indahnya jika kita sebagai warga negara menghargai, mendukung, dan juga mengikuti atau mengkritik kondisi masyarakat dalam berbahasa Indonesia.

Menilik nasionalisme Turki, Frial Ramadhan dalam Journal Masyarakat Sejarah Indonesia (2017: 57) mengenai sejarah kebangkitan nasionalisme Turki pasca perang Balkan pada tahun 1912—1913. Gökalp mengadopsi semboyan “Turkisme/nasionalisme Turki, Islamism dan modernisasi” dengan berfokus pada penerjemahan setiap kosa-kata yang diambil dari bahasa asing harus diterjemahkan ke dalam kosakata Turki (Landau 1990:74, Gökalp; 1976:5). Kemudian, para intelektual Turki lainnya seperti Mehmet Emin Resülzade, Ali Hüseinzade dan Ahmet Ağaoğlu juga beberapa dari intelektual nasionalis yang hidup awal abad ke-20 bersepakat untuk memperkuat nasionalisme Turki dengan cara penggalian warisan bangsa Turki dari mulai musik hingga sastra. (Gökalp 1968: 31). Turki pada masa itu menunjukan taring nasionalismenya dalam berbahasa. Indonesia pun pernah mengalami hal serupa pasca-Kemerdekaan, bahkan jauh sebelum itu, pasca-Sumpah Pemuda.

Kita tidak bisa menilai jiwa nasionalisme seseorang hanya dari campur kode bahasa asing yang ia gunakan dalam berbicara. Akan tetapi, menjadi sesuatu yang lumrah bilamana kebiasaan ini dibiarkan dan digunakan sehari-hari oleh masyarakat secara masif dan sporadis. Dengan begitu, kita semakin tidak berdaulat di bidang bahasa, politik, dan budaya. Selain menunjukan lunturnya nasionalisme dari sisi penutur, Fenomena anak Jaksel juga merupakan tindak penyadaran dan menguatnya nasionalisme dalam berbahasa dari sisi penolaknya. Dari sini kita dapat mengetahui seberapa cinta orang itu terhadap bahasanya dengan menjunjung tinggi bahasanya serta ikut mengembangkannya. Sudah menjadi tugas pemerintah dan warga negara untuk bersama menjaga Bahasa Indonesia baik di ruang publik agar tetap menjadi bahasa persatuan yang mencerminkan tingginya kebudayaan dan jiwa Nasionalisme yang tidak ke-which-is-which-is-an.


DAFTAR PUSTAKA

Ramadhan Supratman, Frial. 2017.  Menjadi Muslim Barat atau Muslim Asia?: Warisan
 Intelektual Turki dan Konferensi Bandung 1955 Jurnal Sejarah. Vol. 1(1), 2017: 52 – 80.
http://jurnal.masyarakatsejarawan.or.id/index.php/js/article/view/48/36, 8 September
2017.

Suwito. 1983. Pengantar Awal Sosiolinguistik, Teori dan Problema. Surakarta: Hennary Offset 
Solo.

Dalam Jaringan:

https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2017/02/penggunaan-bahasa-indonesia-di-ruang-
publik-merupakan-amanat-undangundang



Read More

Prabowo dan teman-temannya di tim mawar dipecat dari militer karena banyak menghilangkan nyawa para pejuang pro-demokrasi pada masa reformasi 1998, yang notabene mereka adalah rakyat sipil. Militer memiliki banyak catatan perihal culik-menculik menghilangkan nyawa orang sepanjang Orde Baru berkuasa.

Begitu juga orang-orang PKI, kita menghafal nama Wikana dan Aidit sebagai pemuda yang menculik Soekarno ke Rengasdengklok. Bedanya, orang-orang PKI tukang culik ini tidak untuk membunuh Soekarno, melainkan untuk mendeklarasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Aidit, Wikana dkk, mengaku mendengar siaran radio asing bahwa Jepang menyerah dan Hirosima Nagasaki telah dibom atom oleh US. Pada zaman itu pemuda yang bisa mencuri siaran asing tentu bukan pemuda biasa, ia ahli teknologi pada zamannya. Dan merekalah pemuda PKI itu, dan hal ini tidak ditulis di buku sejarah SD--SMA sewaktu saya sekolah.

Ketika mereka berani memutuskan untuk menculik Soekarno tentu tidak semena-mena, diawali dengan perdebatan sengit, panjang dan penuh pertimbangan sehingga munculah ide mendesak untuk mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia, dan ini bukanlah sesuatu hal yang B aja. Aidit dan Wikana bukanlah pemuda reaksioner seperti pemuda ormas-ormas yg ikut mengepung kawan-kawan di LBH silam, tentu sungguh tidak pantas jika saya membandingkan dengan mereka, najis mugholadhoh. Kemudian, mereka yang menculik Soekarno tentu memiliki wawasan yang luas tentang Situasi Politik Nasional dan Internasional. Oleh karena itu, kita perlu menghargai jasa mereka. Hingga sampai saat ini, sejarah kita belum jelas mencatat bahwa Republik Indonesia berdiri karena kontribusi mereka juga yang menculik Bung Karno adalah seorang PKI.

Perihal penculikan jendral pada tanggal yang bertepatan dengan hari kelahiran saya yakni 30 September, siapa yang memiliki sejarah culik-menculik lalu membunuh
Read More




      Pada masyarakat Jawa terdapat banyak anjuran dan larangan. Dalam mitologi Jawa, setiap larangan memiliki alasan. Contohnya seperti bentuk “pamali” menanam mawar di depan rumah karena dipercaya hal demikian mendatangkan kesialan. Penjelasannya adalah: jika ada orang lain melihat dan tertarik dengan mawar itu, kemudian dicurinya, maka mendatangkan keributan bahkan dapat menimbulkan masalah yang berujung kematian.

      Di lingkungan sekitar rumah saya di Jalan Kartini Jakarta Pusat ada beberapa pohon beringin yang masih kokoh berdiri, usianya puluhan tahun. Ada lima pohon yang dipercaya sebagai tempat bersemayam hantu-hantu, yaitu pohon asem, pohon kapas, pohon sukun, pohon pisang dan pohon beringin. Pohon beringin yang besar dengan akar yang menjuntai diyakini angker karena menjadi tempat tinggal Kuntilanak dan Genderuwo. Di samping itu, kejadian tentang anak kecil yang disunat jin di pohon beringin juga membuat heboh masyarakat dan sering juga diberitakan media massa.
     
      Dalam masyarakat Jawa, pohon beringin adalah simbol sakralitas dan menjadi fungsi ekologis yang penting menurut Wahana Lingkungan  Indonesia (Walhi) pada (27/3) di Gedung Pusat Gusdurian Yogyakarta. Beberapa alun-alun di kota-kota di pulau Jawa memiliki pohon beringin. Hal ini sebenarnya merupakan bentuk konservasi karena dengan memelihara pohon tersebut berarti menjaga sumber air. Pohon beringin akarnya sangat banyak dan biasanya didekat pohon tersebut ada sumber air. Kata “beringin” pun sering dijadikan sebagai nama jalan. Presepsi masyarakat perihal pohon beringin dipercaya dapat mendatangkan musibah dan berkah. Bagi siapa yang menebang akan mendapatkan kesusahan hidup dalam tujuh turunan dan barang siapa yang rumah dijatuhi oleh pohon beringin akan mendatangkan rejeki. Masyarakat juga percaya bahwa barang siapa yang kencing di pohon beringin kemaluannya akan membusuk, dan barang siapa yang bermain-main dengan pohon beringin akan disentil. Konon sentilan ini dapat membuat orang menjadi cacat seumur hidupnya.

      Pohon beringin juga sering diberi sesajen oleh orang-orang yang melakukan ritual pesugihan. Orang-orang itu memberi apa yang disyaratkan atau disukai oleh penjaga pohon beringin, yang dimaksud penjaga adalah makhluk halus. Tentu ritual semacam ini ditentang oleh agama. Aktivitas tersebut disebut syirik yaitu menyekutukan Tuhan. Sesajen merupakan seperangkat persembahan yang digunakan untuk menghormati penunggunya. Sesajen adalah bentuk penghormatan terhadap pohon besar, muara sungai, dan lain-lain. Pohon yang diberi sesajen menghalangi seseorang untuk menebang pohon tersebut. Dalam hal ini berlaku asumsi fungsi manifest dan laten dari adanya sesajen tersebut. Namun dengan adanya sesajen tersebut akan menghindari penebangan pohon. Dibalik berbagai kepercayaan tentang pohon beringin tentu kita dapat mengetahui bagaimana fungsi mitos tersebut berperan dalam melestarikan pohon sebagai sumber resapan. Dibalik mitos-mitos yang melekat pada pohon beringin terdapat pula manfaatnya bagi kehidupan terutama bagi lingkungan.

Read More



Bocah laki-laki berusia sekitar lima tahun meneriakiku "memek" dari samping jalan. Aku memutar kendaraanku dan menghampirinya.
"Ngomong apa tadi?" Nada penasaranku memperhalus sikapku kepada seorang bocah.

"Nenek" Sambil memasang wajah polos yang tidak tahu apa-apa.

"Ngomong apa tadi!?" Nadaku meninggi.

"Nyenyek" wajahnya tertekuk seperti lipetan ketek.


"Dia ngomong kotor om!" Saut perempuan kecil berbedak tebal yang sedang jongkok di belakang bocah.


"Ini anaknya siapa? rumahnya dimana?" Ku bertanya kepada perempuan kecil itu.


"Anaknya pak Rudi om, rumahnya di situ" Sambil menunjuk gang kecil di samping jalan.


"Maaaaaaap om" Menangis dan memeluk temannya.


"Gak usah ngomong kotor lagi ya?"


"Iya om maaap" Mulutnya mangap menampilkan giginya yang kurang rapi, matanya minimalis, bajunya kebesaran dengan postur tubuhnya yang mungil.


"Gak usah teriak-teriak memek, akan ada waktunya kamu mengenal memek" Akhirnya ku meninggalkan bocah-bocah itu yang sedang asyik mengorek-ngorek tanah.


Sesuatu menghantuiku sepanjang perjalanan. Tidak mungkin anak itu tidak mengenal memek, ia lahir dari sesuatu yang ia pakai untuk mengutuk orang-orang di jalan.
Read More



Judul Buku : Tuan Tanah Kawin Muda Hubungan Seni Rupa-LEKRA 1950-1965

Penulis       : Antariksa

Penerbit       : Yayasan Seni Cemeti

Tahun Terbit: 2005, Cetakan 1

Tebal Buku : 128 Halaman


  Kumpulan tuisan Tuan Tanah Kawin Muda Hubungan Seni Rupa-Lekra ditulis oleh Antariksa diterbitkan tahun 2005. Penelitian ini berfokus pada rentang waktu 1950-1965. Buku ini ditulis karena absennya tulisan seni rupa dengan pendekatan ekonomi - atau politik seni rupa pasca tahun ‘65 sehingga aktivitas seni rupa dianggap sebagai sesuatu yang tunasejarah, tunapolitik dan tunasosial. Dalam hal ini, politik memiliki peran yang dominan dalam mempengaruhi kesenian khususnya di tubuh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

  Judul buku dan cover buku diambil dari lukisan Djoko Pekik. Lukisan tersebut dihasilkan dari pengalaman Djoko Pekik saat praktik Turba (turun ke bawah). Pada halaman 62 diceritakan bahwa seorang petani bernama Pak Noye dirampas tanahnya oleh Haji Dawam Roji seorang tuan tanah yang menjabat sebagai ketua DPR. Dengan kekuasaannya, Haji Dawam Roji bermain merampas tanah-tanah wong cilik. Tidak secara kebetulan penulis buku memilih judul lukisan Djoko Pekik untuk dijadikan judul dan cover bukunya. Saya menduga penulis buku memiliki kesamaan idiologi dengan Djoko Pekik. Di awal buku dijelaskan posisi penulis dalam membangun argumentnya dengan mempertanyakan anggapan seniman kontemporer tentang estetika dan bukan estetika seni rupa Lekra.

  Lekra dideklariskan pada 17 Agustus 1950. Dibentuknya Lekra didasari pada anggapan gagalnya Revolusi Agustus. Kegagalan Revolusi tersebut merupakan kegagalan para pekerja  kebudayaan dalam membangun kebudayaan rakyat yang demokratis. Kegagalan itu menandakan bahwa kebudayaan kolonial dan feodal masih tetap langgeng yang membuat rakyat Indonesia bodoh, tertanam jiwa-pengecut, dan penakut sehingga kebudayaan tersebut menyebarkan watak lemah dan rasa inferior sehingga tidak berkemampuan untuk berbuat dan bertindak.

Menurut laporan Lekra, Menjambut Kongres Kebudajaan, pada tahun 1951 menyatakan bahwa Lekra memiliki 21 cabang di seluruh Indonesia. Memasuki '60-an, Lekra menjadi organisasi kebudayaan yang mapan. Pramoedya Ananta Toer pada tahun '63 menyatakan bahwa anggota Lekra jumlahnya lebih dari seratus ribu orang. Sesuatu yang membedakan seni rupa Lekra atau bukan yaitu pada kandungan idiologis dan cara produksinya. Dalam wawancara dengan Oey Hay Djoen di halaman 32 disebutkan bahwa Lekra itu lebih banyak seperti jaringan, tidak ada kartu keanggotaan dan tidak ada bayar iuran di Lekra. Lekra tugasnya lebih banyak mengkoordiansi, menghubungkan organisasi-organisasi yang sudah ada dan menawarkan hal-hal baru kepada mereka tanpa ada unsur paksaan.

Dari segi estetika Lekra mengacu pada realisme sosialis dan romantisme revolusioner. Lekra bersikap bahwa perjuangan kebudayaan tidak bisa dipisahkan dari perjuangan rakyat. Pada halman 52 perumusan pedoman gerak Lekra disebut prinsip 1-5-1 dengan berlandaskan asas politik sebagai panglima, menjalankan lima kombinasi, yaitu meluas dan meninggi, tinggi mutu idiologi dan tinggi mutu artistik, memadukan tradisi yang baik dan kekinian yang revolusioner, memadukan kreativitas individu dan kearifan massa, dan memadukan realisme sosialisme dengan romantik revolusioner dengan cara kerja turun ke bawah dengan menerapkan “Tiga sama” yakni kerja bersama, makan bersama, dan tidur bersama maksudnya pekerjaan yang sama, jenis makanan yang sama, dan kondisi atau adat tidur yang sama bukan berarti tidur bersama seperti pengantin baru.

  Menilik sepak terjang seniman Lekra di Yogyakarta, Affandi pernah terpilih menjadi anggota DPR yang dicalonkan oleh PKI dengan janji memajukan kebebasan berekspresi. Hal ini merupakan bukti bahwa seniman memiliki pengaruh yang cukup besar di Yogyakarta dan sekaligus seni tidak melulu masuk ke ranah estetik tetapi juga masuk ke ranah politik. Pada tahun '50an Kota Jogjakarta adalah kota kesenian terpenting di Jawa. Menurut Claire Holt pada tahun 1955 terdapat 74 organisasi yang terdadtar secara resmi. Pada halaman 16, Hesri Setiawan salah seorang tokoh penting Lekra berpendapat bahwa kota Yogyakarta telah bergeser dari kota politik menjadi kota budaya atau kota benteng kebudayaan nasional. Sejak dipindahkannya ibu kota ke Jakarta, Yogyakarta meninggalkan statusnya dari kota politik menjadi kota budaya dan sampai saat ini tumbuh menjadi kota pelajar.

Seni rupa Yogyakarta  pada saat itu didominasi oleh seniman Lekra. Menurut yang tertulis dalam buku mengenai perbedaan seniman Yogyakarta dan Seniman Bandung yaitu pedoman seniman Yogyakarta yang menganut seni untuk rakyat dan pedoman seniman Bandung seni untuk seni. Seni rupa Lekra menganut realisme sosialis sementara seniman-seniman di Bandung dianggap sebagai seniman antek kolonial yang menganut seni rupa abstrak dan formalis.

  Hesri Setiawan juga mengkritik seniman yang hanya menampilkan bentuk ketimbang isi. Pernyataan ini senada dengan istilah kambing berjenggot, yang berjenggot itu kambing maksudnya orang-orang ketika itu yang berambut gondrong, berewok dengan baju compang-camping yang dipengaruhi gaya Bohemian seniman '45 berpenampilan seperti itu agar disebut seniman. Jika dikontekstualkan hari ini bahwa beberapa orang yang berpenampilan yang sedemikian bedanya itu hanya semata-mata agar dianggap seniman tanpa disertai ilmu dan keahlian di bidang seni.

  Buku ini memberikan pemahaman bagi pembaca tentang bagaimana seni rupa yang dihasilkan Lekra dapat memberi kebermanfaatan bagi rakyat dan turut menghasilkan seni yang diproduksi dari hasil beleven dan meleven yaitu mengalami, menghayati dan ikut serta merasai apa yang dialami, dihayati, dirasai orang lain. Selain itu, buku ini juga menjelaskan hubungan Lekra dengan PKI, Soekarno, serta lembaga-lembaga kebudayaan termasuk kelompok-kelompok yang kontra dengan idiologi Lekra.

  Kekurangan buku ini ialah sedikitnya penjelasan mengenai seni rupa itu sendiri, lebih banyak membahas sejarah Lekra serta pengalaman pribadi dari anggotanya ketimbang menjelaskan gagasan-gagasan seni rupa berikut filosofisnya dari sudut pandang Lekra. Pembahasan seni rupa rasanya memiliki porsi yang sedikit. Isi buku juga hanya terpaku dengan persoalan pelukis tidak dengan jenis seniman lainnya seperti pematung dll. Selebihnya buku ini cukup berisi dan bahasanya mudah dimengerti. Buku ini cukup memberi nutrisi otak dan menyuntik semangat seniman untuk melawan tuan -tuan di sekitar yang suka merampas tanah.
Read More

Semua bermula pada aksi menyambut kedatangan kepala Kementrian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) di UGM. Peristiwa saya menghadang mobil ketika itu menjadi perbincangan luas. Ada yang menghujat saya habis-habisan dan ada sedikit juga yang memuji sikap saya itu. Kejadian itu melahirkan polemik antara Aliansi Mahasiswa UGM dengan Keluarga Mahasiswa Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (KM TETI) selaku empunya acara seminar yang mengundang penyelenggara negara. Aliansi Mahasiswa UGM terdiri dari lembaga-lembaga eksekutif fakultas di UGM termasuk juga BEM KM. Dalam menghadapi masalah tersebut BEM KM yang mengaku dirinya merepresentasikan mahasiswa UGM menyatakan sikap untuk tidak terlibat dan bersikap netral. Tentu pada saat itu saya sungguh kecewa berat atas sikap tersebut.

         Taufik, Menko BEM KM, menemui saya melalui bantuan Andi Menko Eksternal LEM FIB. Ia meminta saya agar meminta maaf. Saya akui, saat itu saya keras kepala, saya tidak mengaku diri saya bersalah atas sikap saya yang menuntut agar penyelenggara negara turun dari mobil untuk menemui mahasiswa di depan GSP. Kemudian, saya mengatakan kepada Taufik bahwa saya tidak akan pernah meminta maaf baik secara lembaga maupun secara pribadi kepada siapa pun.

Setelah itu, saya kaget bukan main. KM TETI mengeluarkan rilis yang begitu dahsyatnya membuat saya dan Hikari (Dema Fisipol) jadi cercaan banyak orang. Rilis sikap tersebut dibagikan sebanyak 2000+. Tak kurang dari itu, puluhan pesan teror saya terima sepanjang hari-hari itu. Gambar diri saya pun dipajang di rilis tersebut. Saya tidak bisa diam saja pada saat itu. Saya pun bertanya di grup Aliansi tentang sikap teman-teman. Semuanya diam. Oleh karena itu, secara personal saya menulis rilis panjang untuk klarifikasi tuduhan-tuduhan terhadap diri saya. Kemudian, saya menuliskan bahwa KM TETI seperti anak kecil, dan Aliansi sudah impoten.

      Seiring ramainya perbincangan masalah tersebut, akhirnya Kevin selaku ketua LEM FIB dan Andi membujuk saya untuk menemui teman-teman KM TETI. Akhirnya, kami pun menemui KM TETI untuk klarifikasi dan saling meminta maaf atas apa pun yang terjadi pada acara itu. Setelah berlalunya masalah tersebut, Aliansi UGM menyepakati untuk aksi lagi pada tanggal 2 Mei 2016 yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Aksi tersebut kembali membuat heboh UGM. Ribuan massa datang untuk ikut aksi. Liputan berita disiarkan oleh media-media besar seperti Net, RCTI, Metro TV, Tribune News, Kedaulatan Rakyat, dll. Sebelumnya, saya sudah memprediksi bahwa aksi 2 Mei akan demikian. Oleh karena itu, saya meminta bantuan teman-teman dari F. Filsafat seperti Fala, Bob, Anung untuk membuat spanduk besar bertuliskan "Revolusi Pendidikan". Spanduk itu saya pasang di depan gedung rektorat dengan Henry (Saspran 2012) dkk. Saya pikir, permasalahan UGM merupakan kulit saja dari permasalahan pendidikan di Indonesia. Ada masalah besar di dunia Pendidikan kita, dan itu sudah saya tuliskan sebagian pada zine saya yang berjudul "Mahasiswa dan Pendidikannya".

Setelah aksi, sebagai menteri kajian strategis di LEM FIB saya heran, kenapa tuntutan aksi berakhir dengan negosiasi yang membuat tuntutan 2 Mei 2016 itu tidak terpenuhi sehingga 2 Mei tahun 2017 harus ada aksi lagi untuk menuntut janji tahun sebelumnya. Saya sebagai Korlap utama pada aksi tersebut juga sedikit heran ketika tuntutan-tuntutan tidak semua terpenuhi.
            
Sebelumnya, Audiensi 16 Mei 2016 di UC, Ali (Ketua BEM KM dari partai Bunderan) berbicara "di hadapan" mahasiswa. Dengan heroik ia mengatakan bahwa ia mengomandoi aksi 2 Mei. Pernyataan itu menyebabkan perpecahan di tubuh Aliansi Mahasiswa UGM. Karena itu, tuntutan-tuntutan mahasiswa dianggap oleh Pihak Rektorat bisa diselesaikan hanya dengan BEM KM karena dirasa sudah mewakili unsur mahasiswa. Setelah kejadian Ali itu, pasca 2 Mei tak ada jejak perlawanan lagi dari mahasiswa.
             
Menjelang akhir tahun 2016, BEM KM membuat polemik karena mengundang Jend. Gatot Nurmantyo untuk menjadi pembicara di suatu seminar. Pada Kongres Akhir Tahun, Ali dicecar habis-habisan oleh peserta sidang yang menolak undangan tersebut. Ali mengakui bahwa ia mengundang Gatot karena pesanan dari dosen. Tetapi, Ali tidak menyebutkan siapa nama dosen tersebut. Dengan gampangnya, Ali membatalkan seminar meski sudah ada ratusan pendaftar. Dari kejanggalan tersebut, saya melihat BEM KM sudah tercemar dan kotor! Masalah UGM belum selesai, tetapi malah patuh terhadap instruksi dan pesanan yang berbau politik itu.
              
Melihat tingkah BEM KM saya berpikir keras, ada apa sebenarnya BEM KM? Kenapa BEM KM ikut aksi 212 untuk memenjarakan Ahok? kenapa BEM KM sibuk mengurusi Perpu Ormas, UU Pilkada, dan hal-hal politis lainnya? Apakah BEM KM ini membawa suara partai politik tertentu? Atau suara mahasiswa? Kenapa mahasiswa UGM tak bisa bersatu dalam aksi-aksi tersebut?? Saya rasa BEM KM/KM UGM merupakan masalah makro dalam hubungannya antarmahasiswa di UGM.
        
Sedikit bercerita, sewaktu Satria (Ketua BEM 2015 dari Partai Bunderan) saya mengikuti aksi mengkritisi kinerja Bpk. Joko Widodo. Saya mahasiswa awam pada saat itu ikut dua kali aksi, pertama bersepeda ke Gembira Loka dan kedua aksi hujan-hujanan di Titik Nol KM YK. Saya melihat, kenapa mahasiswa yang ikut aksi orangnya itu-itu saja. Padahal, aksi yang diliput oleh media itu membawa nama BEM KM, sementara BEM KM mendaku bahwa dirinya merupakan suara yang mewakili mahasiswa UGM. Saya pun berpikir bahwa ini hanya aksi sekadar untuk aksi. Kurang lebih bagai aksi yang kebelet boker.

Saya mulai menyadari bahwa BEM KM bobrok. Dengan segala keresahan, saya membuat tulisan untuk BEM KM. Mempertanyakan keberadaan BEM KM di UGM. Apakah BEM KM bermanfaat bagi seluruh mahasiswa UGM? Apakah BEM KM benar-benar bersuara untuk kepentingan mahsiswa UGM bukan kepentingan partai politik?? Tulisan itu pun disambut heboh., ya mau gimana lagi, pada saat itu BEM KM benar-benar anti-kritik.
               
Menjelang pemilu, saya menyerukan kepada khalayak untuk memboikot Pemilwa dan BEM KM UGM. Saya didukung oleh teman-teman yang mendukung ide saya. Partai-partai mahasiswa pun mencoba membangun komunikasi, mereka adalah Alan (Ketua Senat), Stefan & teman-temannya dari partai Sayang Mama, Boulvard, dan Siti & Ketua dari Partai Srikandi. Segala kepentingan mendekati saya. Saya hanya berkata setiap ketemu dengan mereka, “Mari menggunakan cara masing-masing, saya dengan cara saya, kalian dengan cara kalian. Jika kalian mendukung Boikot, mari kita bekerja sama”.

Dalam gerakan Boikot saya dibantu oleh Josu, Jalu, Hikari, Agung, Estu, Bagas, Josardi, Ridwan, Ahnaf, Sultan, Panji, Wikan, dan teman-teman lainnya yang tidak semua bisa disebut di sini. Kami semua berusaha untuk mengubah KM UGM yang lebih baik, tetapi orang-orang yang kolot tersebut menyerang kami dengan sebutan "barisan sakit hati", dengan segala macam cara kotor untuk menggebosi gerakan Boikot yang mencapai 1000+ menuliskan boikot di surat suara. Mereka terus tidak peduli dengan data kami, dengan riset Ridwan yang teruji. Meski mereka adalah kita, tetapi tetap saja mereka berpikir bahwa kami adalah penganggu kekuasaan mereka. Saya sebut saja mereka ini KAMMI, Partai Bunderan serta koalisinya yaitu sebagian anggota HMI Teknik. Anggota KAMMI adalah orang-orang yang dominan di partai Bunderan dan BEM KM, di Senat? saya tidak mengerti, yang saya tahu saya tidak tahu apa kerjanya Senat Mahasiswa dan sumbangsih untuk mahasiswa UGM.

Perihal Boikot tahun ini? saya rasa sudah usai, secara pribadi saya mendukung teman-teman yang mendukung calon nomor 3, yaitu Obed. Apakah Obed ingin mengubah bentuk KM UGM setelah terpilihnya menjadi Ketua BEM KM? Saya hanya berharap bisa demikian. Saya percaya kepada kawan-kawan semua yang pernah ikut Boikot dan sekarang ikut serta memenangkan Obed di Pemilwa tahun ini (meskipun tidak semua). Saya yakin kawan-kawan bisa mengubah dari dalam. Semoga kawan-kawan tidak kalap mata, tidak lupa dengan kata-kata yang pernah keluar dari mulut kawan-kawan selama Kongres-kongres untuk mengubah KM UGM yang lebih baik.
Read More
Jum'at, 10 November 2017



Prof. Dr B.J Habibie sakit keras dan menyerah dari kehidupan setelah ditinggal oleh istrinya, Ainun. Ia terus larut dalam kesedihaan dan penyakitnya pun tidak kunjung sembuh. Suatu ketika ia disarankan oleh dokter pribadinya untuk menuliskan segala perasaannya, keluh kesah, dan hal apa pun yang menjadi beban bagi dirinya. Ia mengikuti saran dokter tersebut. Akhirnya ia menceritakan segalanya melalui tulisan. Ia menulis kisah-kisahnya saat bersama Ainun. Setelah dituliskan, Habibie merasa hidupnya lebih ringan dan penyakitnya kian sembuh. Ia kembali memiliki semangat hidup sehingga ia terus menulis dan menulis sampai kemudian menjadi sebuah buku yang berjudul Habibie dan Ainun.

Dalam kisah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karya Prof. Hamka terdapat tokoh bernama Zainuddin. Bagi yang pernah membaca novelnya atau menonton filmnya lebih mengerti betapa besar cinta Zainuddin kepada Hayati. Zainuddin pun sakit keras, jiwanya sakit, mentalnya terganggu setelah Hayati memilih untuk menikahi seseorang yang dijodohkan oleh orang tuanya. Hayati dapat membohongi dirinya sendiri tapi Zainuddin tidak bisa berupaya untuk melupakan segala kisahnya bersama Hayati. Kondisinya Zainuddin pun semakin parah sehingga pada suatu ketika datanglah seorang temannya yang memberi semangat dan siap menemani Zainuddin untuk merubah hidupnya yang layu karena dikhianati Hayati. Zainuddin pun memulai hidupnya kembali dengan menuliskan ceritanya berupa cerpen yang diubah nama tokohnya. Koran-koran memuat ceritanya dan menarik banyak pembaca. Kemudian, Zainuddin menuliskan kisahnya dalam bentuk novel. Bukunya laku keras, ia pun menjadi orang yang terkenal dan kaya raya.

Mungkin banyak kisah yang serupa, tetapi dua kisah nyata dan fiksi di atas menceritakan bukti bahwa menulis merupakan obat kesedihan. Menulis dapat menyembuhkan penyakit hati sehingga semangat hidup dapat diperoleh kembali. Jika aku merasa tidak ada teman berbicara atau teman yang cocok untuk membicarakan persoalanku mungkin menulis merupakan media alternatif bagiku. Sekali pun ada teman bicara tetap saja aku belum merasakan kebebasan bercerita selain dari menuliskannya. 

Oleh karena itu, untuk ke depannya aku akan mencoba untuk menuliskan peristiwa hidup yang membuat pikiranku terganggu dalam bentuk cerita sederhana dan ringan dibaca. 
Read More