Melawan Perbudakan Kapitalis di UGM
Oleh: Syahdan Husein



“Alangkah kotornya isi kepala tengkorak kekuasaan.Itulah sebabnya, kepala raja harus dihias dengan mahkota” kata Aryo Bekti. (W.S Rendra 1986:144)

Setengah abad lebih perguruan tinggi di Indonesia kokoh berdiri. Setelah kemerdekaan Indonesia perguruan tinggi banyak dibangun khususnya di kota Yogyakarta, seperti Universitas Gadjah Mada berdasarkan PP. No. 23 Tahun 1949. Universitas Gadjah Mada lahir dari embrio perjuangan ber-credo “merdeka atau mati” maka lahirlah UGM pada tanggal 19 Desember 1949 yang berstatus perguruan tinggi swasta. UGM merupakan salah satu perguruan tinggi yang didirikan untuk  perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, juga sebagai perjuangan menjadikan pendidikan yang lebih baik dari zaman kolonial. Perguruan tinggi pada saat itu hanya dapat dikenyam oleh kaum kelas atas, dari kalangan orang yang mampu secara ekonomi saja. Besar kemungkinan tidak bisa dinikmati oleh kaum Murba yang disebutkan Tan Malaka, Marhaen oleh Soekarno, keduanya adalah proletar atau rakyat miskin yang dihisap oleh kapitalisme yang serakah akan nilai lebih (profit).

Beberapa orang berpendapat bahwa pendidikan itu seperti air dan udara. Artinya,  pendidikan adalah hal yang mudah diperoleh dan sangat penting bagi kehidupan. Akan tetapi, perguruan tinggi saat ini mulai dirasa tidak penting lagi, dan begitu sulit didapatkan karena biaya pendidikan yang mahal dan persaingan ketat pada seleksi masuk. Namun pada sebaliknya, ada orang-orang yang dengan begitu mudahnya menempati kursi-kursi sekolah karena memumpuni secara ekonomi dan pengetahuan. Karena pendidikan yang mereka dapat lebih baik daripada mereka yang kesulitan dalam berbagai hal. Oleh sebab itu, perguruan tinggi mulai dirasa turun kualitasnya seiring masalah-masalah yang muncul dalam pendidikan saat ini. Diperburuk lagi oleh mahasiswa yang hanya disibukan kuliah dan berkonsentrasi hanya untuk menjadi pekerja untuk memasok kebutuhan-kebutuhan perusahaan seperti para pribumi zaman kolonial yang dibuat sibuk mengenai seputar pekerjaan saja sehingga tidak tahu akan arti pentingnya pendidikan itu sendiri.

Oleh karena itu, mereka yang tidak sanggup masuk perguruan tinggi hanya dibuat sibuk bekerja dan terus dieksploitasi tenaga dan akal sehatnya sehingga pendidikan menjadi suatu hal yang tak akan terpikirkan olehnya. Bukankah orang kuliah supaya dapat bekerja? Apa salahnya univeristas melayani pos-pos pekerjaan yang sudah disediakan oleh modal dan pemerintah? Bukankah manusia butuh makan? Bagaimana nasib mahasiswa nanti? Para pendidik mendadak kritis ( yang banyak menimba inspirasi dari Paolo Freire) menenggarai sikap ini biasanya muncul karena putus asa (politic of despair) yang akhirnya menghasilkan sikap sinis (politic of cynism) (baca: Henry Giroux “Pedagogy of the Depressed”, 3) disebut politik dalam arti bahwa sikap itu menjadi strategi untuk membentengi diri.

Dahulu tokoh-tokoh mahasiswa Indonesia di Belanda seperti Mohammad Hatta, Abdul Majid, Ali Sastro, dan Muhammad Natsir yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia (PI) sangat berani mengatakan akan hal-hal mengenai kemerdekaan bangsanya.Tulisan-tulisan mereka dimuat di media cetak “Indonesia merdeka”, keberanian seorang mahasiswa di tanah penjajah di mana mereka mengenyam pendidikan adalah suatu fenomena yang mengguncangkan pihak penjajah. Mereka sungguh tidak lembek dalam tulisan-tulisannya, sekalipun mereka dikriminalisasi oleh Pemerintahan Belanda yang akan memenjarakan mereka, mereka tetap konsisten menyatakan perlawanan dihadapan hakim dalam persidangan. Inilah contoh hasil dari pendidikan yang melahirkan kemerdekaan bangsa Indonesia, bukan hanya menjadi tenaga pekerja dan menjadi penyelenggara acara (Event Organizer) saja.

Perubahaan paradigma pendidikan saat ini merupakan gejala dari semakin beringasnya kapitalisme di Indonesia, J.P Sartre filusuf prancis pernah mengatakan,“Prancis adalah negri penuh dusta, pemerintah menutupi fakta-fakta, juga ada optimisme yang tidak sehat yaitu merubah rakyatnya menjadi masyarakat konsumen”. Apakah ada kesamaan dengan Universitas Gadjah Mada? wallahu a'lam bishawab. Sartre menyebut adanya semacam pembudakan teknokratik berganda dan sekaligus menciptakan manusia yang mempunyai semangat konsumen; artinya orang yang keinginan-keinginannya dibentuk menurut keingan-keingan orang lain. Semuanya itu merupakan kenyataan sekarang, dan berhubungan dengan usaha-usaha kapitalisme untuk mempertahankan kedudukannya. Lulusan pendidikan dipandang sebagai barang dagangan (barang konsumsi) dari hasil produksi sehingga pasar dan gerak pasar menentukan sekali dalam proses produksi manusia berpendidikan di Indonesia. Penulis setuju dengan ungkapan bahwa pendidikan bukanlah untuk sekelompok manusia, sekelompok dunia industri, segerombolan mafia, melainkan pendidikan untuk semua orang dan kalangan.

Mahasiswa kini telah dinina-bobokan oleh kegiatan-kegiatan yang banyak dan pemberian tugas yang menumpuk. Suatu aksi demonstrasi dicap bukanlah nilai-nilai ke-UGM-an, dan jika boleh penulis menyarankan agar penyelenggara Universitas mempelajari lagi sejarah UGM dan nilai-nilai filosofis dari simbol-simbolnya. Penulis tidak menggunakan kata pejabat sebab pejabat berhubungan dengan kedudukan, kursi dan kepegawaian saja, sedangkan penyelenggara mengaitkan soal tugas, tanggung jawab dan kepemimpinan. Sikap Universitas yang terlalu defensif kepada mahasiswa yang dirasa kritis, akan melahirkan kebijakan-kebijakan yang tidak populis dan tidak demokratis dengan kata lain kebijakan yang ngawur.

UGM’s style adalah jargon yang terus dicekoki oleh pemimpin-pemimpin di UGM. Penulis curiga ini adalah kerja mesin antropologis yang digunakan zaman orde baru dulu,  mesin yang melahirkan konsep “manusia Indonesia seutuhnya”. Ada manusia utuh dan bukan manusia utuh , manusia Indonesia dan bukan manusia Indonesia, manusia yang dianggap tidak utuh jelas para eks tahanan politik 1965, yang status kewarganegaraanya pun nomor dua karena terus menyandang cap “eks tapol” (dijelaskan dalam buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu karya Pramoedya A.T ). Konsep itulah yang semata-mata untuk mengkonstruksi paradigma rakyat agar manut dan membenci lawan politisnya sehingga melegitimasi kekuasaan Soeharto sampai 32 tahun lamanya.

Berangkat dari istilah “nuda vita” seorang Pemikir italia Giorgio Agamben, ia menyatakan setiap kehidupan tampil dalam forma yang telah diselubungi, dibentuk, dan dimaknai secara sosial, politis, dan ekonomi. Akibatnya, tercipta konsep siapa itu mahasiswa UGM dan bukan mahasiswa UGM, senantiasa mahasiswa menjadi identitas yang tidak perawan. Implikasinya, pemimpin-pemimpin Universitas menggeser bidang yang sepenuhnya bersifat antropologis menjadi sepenuh-penuhnya politis. Penulis mengira ini  adalah cara-cara politis pemimpin-pemimpin UGM agar menciptakan kekondusifan di UGM sehingga dikira tidak goyang lalu bisa naik menjadi mentri yang dirasa lebih kece ketimbang hanya menjadi seorang pemimpin sebuah Universitas. Akan tetapi, sangat disayangkan jika cara-caranya itu sampai mengebiri kekeritisan mahasiswa dengan mengecap mahasiswa yang kritis seakan-akan “subversif” dan “provokator” adalah bukan mahasiswa UGM (mudah-mudahan ini salah, semoga menjadi dosa dan prasangka penulis saja).

Penulis bukan seluruhnya tidak setuju dengan nilai-nilai ke-UGM-an yang sering disebut-sebutkan itu. Bung Hatta menuliskan “tanggung jawab seorang akademis adalah intelektual dan moral, ini terbawa oleh tabiat ilmu itu sendiri yang ujudnya mencari kebenaran dan membela kebenaran” (1983:3). Henri Begerson (1859-1941) seorang filusuf prancis, membedakan dua macam moralitas, moral statis dan moral dinamis. Moral statis timbul sebagai hasil desakan sosial (social pressure), yang bertujuan mempertahankan adanya masyarakat itu. Moralitas ini terdiri dari perintah-perintah dan larangan-larangan yang melindungi kepentingan masyarakat atau social group tertentu. Sebaliknya moral dinamis bukan hasil dari paksaan sosial, moral ini bersifat personal, muncul terutama lewat orang-orang yang punya intuisi kreatif. Ia tidak dilaksanakan menurut norma hukum, tetapi bedasarkan cita-cita yang luhur dan kemauan yang jujur. Menurut pandangan penulis, yang dimaksud Bung Hatta di sini adalah moral dinamis, yang mana mahasiswa dan penyelenggara universitas selaku akademisi mempunyai cita-cita luhur dan kemauan yang jujur. Juga merujuk pada pengertian “Intellect”, (dalam kamus longman bahasa inggris kontemporer edisi ke-3 tahun 2001, artinya “the ability to understand things and think intelegently”). Jadi, sudah sepatutnya mahasiswa dan penyelenggara universitas selaku akademisi yang disebut kaum intelek harus bertanggung jawab atas intelektualitas dan moral. Selain itu wajib juga bagi seorang akademisi tidak boleh menutup-nutupi suatu hal, mengutamakan sikap transparansi sebab Prof. Faruk (Guru besar FIB UGM) berkata "transparansi adalah  nilai akademis". Oleh karena itu, transparansi harus dijunjung tinggi sehingga tidak banyak menimbulkan kecurigaan, buruk sangka dan dosa-dosa lainnya.


      Sebagai penutup tulisan ini, penulis mengutip kata seorang pskiater jerman Dr. Robbert  Ritter “satu bangsa yang menjauhi kehendak budinya, bangsa yang sedemikian ta’kan bertambah mulia”. Jadi, mahasiswa selaku kaum intelek dan akademisi, selain harus bermoral dan berakhlak juga harus berani menjungjung kebenaran, berani mengkritisi baik dalam perkuliahan maupun diluar proses ajar-mengajar. Mari bergerak membangun gagasan besar, dimulai dari mengkritisi diri sendiri, agar terwujudnya cita-cita bangsa kita, dimulai dari Universitas Gadjah Mada kita tercinta. Penulis hanya khawatir kelak dalam dunia pendidikan hanya akan melahirkan pelacur-pelacur intelektual yang menjual dirinya kepada mucikari (kapitalis) sehingga perguruan tinggi hanya menjadi lapak mucikari dalam menjalankan bisnisnya.  Maka dari itu, bangsa mahasiswa harus berani menolak komersialisasi pendidikan dan berani mengkritisi kebijakan yang salah di UGM kita tercinta. Bangsa mahasiswa jangan mempermulus proses mekanisme manusia dan dehumanisasi dimana manusia semakin terkikis kemanusianya yang diciptakan oleh kapitalisme menurut apa yang dikemukakan oleh Joseph Schumpeter. Musuh kita bukan lagi kebodohan, tapi pembodohan. Bangsa mahasiswa jangan mau memupuk kapitalisme sehingga ia subur dan lebat di dalam ranah pendidikan kita. Perguruan tinggi dan mahasiswa saat ini harus lebih baik dari zaman penjajahan.





DAFTAR PUSTAKA

Damanik, A. 2009. Pendidikan Sebagai Pembentukan Watak Bangsa, Yogtakarta: USD.

Hatta, M. 1983. “Tanggungjawab Moral Kaum Intelegensi” dalam Cendikiawan dan
PolitikJakarta: LP3ES.

K.H, Ramadhan., dan Winarsih. 1967. “Sastre, kita harus menentukan nilai-nilai kita sendiri
dalam Budaya Jaya , Jakarta: DKJ. 

Kladen, Leo. 1973. “Antara lekuasaan yang stabil dan kemerdekaan intelektuil”  dalam Budaya
Jaya, Jakarta : DKJ. 

Mulyanto, D. 2011. Marx, Kapital & Antropologi, Bandung: Ultimus.

Robertus, R., dan  Boli, T.H. 2014. Pengantar Sosiologi Kewarganegaraan dari Marx sampai
Agamben, Yogyakarta : Marjin Kiri.

Soekarno. 1964.  Dibawah Bendera Revolusi, Cet. III , Jakarta: Panitia Penerbitan di bawah
pimpinan H. Mualliff Nasution.

St. Sunardi. 2004. Tahta Berkaki Tiga Kepemimpinan Intelektual dan Moral Perguruan Tinggi,
Yogyakarta: USD.



.
           

Read More
[RILIS ACARA] RENOVASI Bonbin: Sebuah Titik Awal Perjuangan

“Kami, mahasiswa dan pedagang Kantin Bonbin Humaniora, menyatakan MENOLAK RELOKASI Kantin Bonbin Humaniora! Bonbin dibangun di atas tanah rakyat, maka sudah sepatutnya tanah ini digunakan untuk kepentingan rakyat. Sebagai kampus kerakyatan, sudah sepatutnya kampus ini membela rakyat-rakyat yang butuh makan. RENOVASI BUKAN RELOKASI, RENOVASI BANGUNANNYA, RENOVASI KUALITASNYA, RENOVASI MENTAL KITA SEMUA!”

 Tepuk tangan riuh-rendah merebak di Bonbin malam itu setelah paragrafi di atas digemakan dalam puncak acara RENOVASI Bonbin, ketika perwakilan para pedagang dan mahasiswa telah usai mendeklarasikan penolakannya atas wacana relokasi yang akan dilakukan terhadap Kantin Humaniora Mandiri, atau Kantin Rekadaya Boga Humaniora yang lebih akrab disapa Bonbin.

 Hari itu, Kamis (7/1) malam, Bonbin yang biasanya berisi meja dan kursi untuk makan berubah menjadi sebuah venue pertunjukkan seni. Tempat lesehan di selatan Bonbin dibentuk menjadi panggung T gendut yang di atasnya diletakkan alat-alat nge-band. Kursi-kursi panjang ditata membentuk letter U, dan di tengah rangkaian kursi berbentuk huruf U diletakkan panggung utama yang lebih kecil dari panggung T.

 Sore berjingkat, malam merebak, dan penonton mulai berdatangan pada pukul 19.00, meski belum padat. Penonton yang baru saja masuk diarahkan ke meja-meja yang disiapkan pada bagian belakang plang ‘Kantin Humaniora Mandiri’, yang di atasnya sudah berjejer minuman dan penganan: soft drink, kopi, gorengan, serta sticker #SaveBonbin. Di belakang meja itu, ada kain putih polos, dan panitia menyediakan sebuah spidol untuk pengunjung yang ingin menorehkan tanda tangan serta kata-kata untuk Bonbin. Di antara pilar-pilar Bonbin, kumpulan buah karya yang terkait atau menanggapi isu relokasi Bonbin pun dipajang. Ada yang berbentuk puisi, rilis, status-status media sosial, foto, hingga lukisan.

 Acara dimulai pukul 19.30, diawali pembacaan Prolog dengan iringan gitar akustik yang dibacakan Aria Notharia, Teruntuk Bonbiners, dari Temanmu Bonbin. Disusul sebuah video Saskine tentang #RenovasiBukanRelokasi yang muncul di LCD yang telah terpampang di depan. Setelah itu, pengantar tentang Bonbin pun diberikan oleh Afid Baroroh dengan syairnya yang membuat hati penonton  terenyuh dan Ari Bagus Panuntun, Mantan Presiden LEM FIB. Isinya berupa isu relokasi Bonbin dan bagaimana masyarakat menanggapi isu relokasi: dari mulai melakukan hearing, audiensi, membuat rilis, hingga berujung pada acara RENOVASI ini.

Sesudah itu, lampu meredup, lalu menyala lagi seiring dengan dua orang pemain gitar yang memasuki panggung utama. Itulah penampilan akustik yang apik dari Schizofriend, sebuah persembahan dari teman-teman Fakultas Psikologi. Disusul puisi Fatamorgana Pilu oleh Rahma. Disusul lagi penampilan musik dari grup Musikalisasi Puisi Dilarang Mendekati Orang Sedih, Dramatisasi Puisi, hingga akhirnya penonton dikejutkan oleh seorang lelaki yang memakai jas rapi dan peci yang berorasi dengan aksen keun. Ia lah Aslama Nanda Rizal, yang menyajikan sebuah orasi tentang Bonbin, sekaligus menjadi pengantar pada acara puncak, yaitu : Deklarasi Penolakan Relokasi oleh Pedagang Bonbin dan Mahasiswa.

 “Kami memang membuat konsep mendasarnya dalam bentuk pertunjukan seni rakyat. Seni untuk Bonbin. Serangkaian acaranya itu kami buat dengan grafik suasana memuncak lalu menurun. Seperti tujuan pertama yaitu mengajak para Pedagang Bonbin dan Mahasiswa Soshum UGM khususnya untuk satu suara menyuarakan tolak relokasi, dalam tujuan itu kami wujudkan dalam grafik naik dengan pembawaan emosional yang meninggi yang diwujudkan oleh pengisi acara, seperti dari Prolog Narator hingga puncaknya Orasi yang menggebu-gebu lalu dilanjutkan tanpa putus oleh Deklarasi Pedagang dan Mahasiswa yang hadir,” jelas Yanie Srikandi, panitia Acara RENOVASI Bonbin. “Saat itu terasa sekali, sih, emosi yang hadir jadi satu tujuan dan mereka (penonton) menutup dengan teriakan juga tepuk tangan.”

 Sementara itu, Yanie menuturkan, setelah puncak acara yaitu Deklarasi Penolakan Relokasi, konsep acara diubah. Karena tujuan acara RENOVASI Bonbin yang kedua adalah sesrawungan, maka ditampilkan lah band-band dari masyarakat Soshum: ada Kegendutan yang merupakan gabungan dari mahasiswa kluster Sosio Humaniora, She-Leads yang lahir dari Fakultas Psikologi, Sanggar Apakah dari Fakultas Hukum, Josephira dari Fakultas Ilmu Budaya, dan Burjois dari Fakultas Filsafat. Kelimanya menyajikan genre yang berbeda, ada pop, rockabily, punk rock, dan genre-genre lainnya. Penampilan band tersebut agak menurunkan tensi ketegangan pasca Deklarasi Penolakan tadi.

 “Aku suka banget ketika sebuah peristiwa seni punya latar belakang atau tujuan yang konkrit. Aku senang dan bangga bisa genjreng-genjreng dan sumbang suara untuk tujuan mulia semacam ini. Penyelamatan Bonbin dari wacana relokasi wajib diprioritaskan oleh kita semua, para pencinta telor dadar Yu Par. Semoga riuh pesta kita kemarin dapat terdengar dan mengingang hingga telinga para pemangku jabatan di gedung pusat sana. Bravo untuk para inisiator peristiwa ini. Semoga Bonbin tetap bertahan,” jawab Vikra Alizanovic, salah seorang penampil dari band Kegendutan malam itu, ketika memberikan kesan menjadi salah satu pengisi Acara RENOVASI Bonbin.

 Syahdan Husein, yang menjadi salah satu konseptor acara RENOVASI juga menganggap acara itu sukses. Ke-srawungan bukan hanya terdapat pada penampilan band-band dari penjuru rumpun Sosial-Humaniora, tetapi ia menambahkan, panitia acara RENOVASI ini memang beragam dan terdiri dari beberapa fakultas seperti Filsafat, Psikologi, Ekonomi Bisnis, Ilmu Budaya, dan lain-lain. Semua bahu-membahu demi menyukseskan acara RENOVASI.

  “Meskipun RENOVASI Bonbin sukses, acara ini barulah titik awal perjuangan kita untuk membuktikan esensi Bonbin yang begitu krusial bagi mahasiswa maupun pedagang, dan isu Bonbin menjadi refleksi perlawanan rakyat terhadap penguasa yang bertindak semena-mena serta tidak memperdulikan kepentingan rakyat lagi,” jelas Kevin Maulana, salah seorang panitia RENOVASI Bonbin yang merangkap Presiden LEM FIB periode 2016/2017. “Harapannya, semoga semangat solidaritas #SaveBonbin dengan gagasan #RenovasiBukanRelokasi harus tetap dikobarkan jangan sampai padam termakan oleh buaian,” imbau Kevin pada akhir perbincangan. (shabia)
















Read More


Di dalam tulisan kali ini saya hendak menjelaskan isu sosial yang berkembang belakangan ini. Ya, mengenai penggusuran atau relokasi kantin humaniora. Siapa sih yang gak tau bonbin ? Nama populer dari kantin humaniora yang ada di Universitas Gadjah Mada sejak tahun 1987.  Yah, Bonbin adalah kantinnya hewan-hewan yang berfikir, tempat berkumpulnya mahasiswa dari berbagai Fakultas seperti FIB, FEB, F.Psikologi F. Filsafat Fisipol dan F.Hukum. Bonbin juga sering disebut kantin rakyat. Seperti yang kita ketahui bahwasanya Bonbin selalu ramai karena harga menunya yang murah-murah alias merakyat, jajanannya yang beragam, dan pelayannya juga ramah, santai dan gak baperan.

Penggunaan judul tulisan ini mungkin terlalu dini bagi saya, seorang mahasiswa baru yang kenal Bonbin belum lebih dari setengah tahun lamanya. Yah, Bonbin sudah seperti rumah sendiri bagi saya, saya kenal pedagang-pedagangnya, mulai dari ibu-ibu yang saya anggap seperti ibu sendiri, bapak-bapaknya seperti bapak sendiri,juga mas-mas dan mba-mbanya yang saya anggap seperti saudara sendiri.  Entah mengapa mereka selalu asik untuk diajak bicara seperti ayah di teras meja dengan secangkir kopinya, dan yang tidak kalah asiknya adalah masakan ibu kantin di Bonbin yang layaknya seperti masakan ibu sendiri di rumah. Kadang kala jika kelaparan datang, namun tidak ada uang di saku celana, entah betapa asiknya mereka itu selalu santai (easy going) untuk memberikan makan tanpa membayar pada saat itu juga, bisa dibayar kapan-kapan kalau ingat, dengan kata lain bisa ngutang.

Orang-orang yang sering makan dan minum (jus atau air putih) di Bonbin itu berasal dari Suku, Ras dan Agama (SARA) yang beragam, mulai dari buruh kasar, pegawai halus, mahasiswa hits (ugm cantik dan ganteng), bule-bule student-exchange, dosen biasa sampai Guru Besar pun ada, sering kali mereka berkunjung ke Bonbin sekedar untuk menyantap sarapan pagi, makan siang, dan makan malam. Yah, meski ada juga yang ke Bonbin gak makan, cuma sekedar nongkrong, cuap-cuap, sebar hoax, transfer ilmu, cuci mata, dakwah, ngerjain tugas, dan segala aktivitas lainya. Dengan itu, kita semua sepakat bahwa Bonbin adalah tempat yang sangat asiik untuk bercengkrama, tidak hanya untuk makan melainkan asiik buat ngeguyon, asiik buat diskusi, asiik buat baca, asiik untuk bermetamorfosa, pastinya asiik buat ngapain aja asalkan positif.

Mungkin di dua postingan akun Line Apakabarfib sebelumnya ( berjudul : Dialog Bersama Direktorat Aset "Relokasi BONBIN, Serius?” dan Bonbin Paan Tuch......?!?") sudah banyak membicarakan mengenai issue tersebut. Tulisan yang pertama lebih membahas tentang rencana dari direktorat untuk memindakan pedagang bonbin ke Lembah UGM dan bagaimana sikap dari Aliansi Mahasiswa, sedangkan tulisan kedua lebih menceritakan kisah-kisah Romantisme Bonbin sehingga dianggap sebagai kantin legenda oleh Mahasiswa dengan banyak sekali kenangan yang terkemas di dalamnya. Jadi, saya disini tidak akan menjelaskan lagi bagaimana detailnya mengenai Bonbin dan pengawalan issue penggusuran/relokasi ini.

Sore kemarin, Rabu pukul 4 sore (23/12/2015) saya bersama kawan-kawan LEM FIB berkesempatan untuk berdiskusi (lagi) dengan beberapa pedagang bonbin. Pertemuan kami dimulai dengan obrolan sejarah bonbin dengan Pak Tukino. Pak Tukino adalah mantan aktivis kaki lima yang turut menjadi saksi mata bagaimana pada tahun 1987 kantin ini dibentuk oleh Rektor Prof. Dr. Koesnadi Hardjosoemantri, S.H . Beliau juga ayah dari Mas Wisnu, salah satu pedagang bonbin hari ini yang berjualan pulsa, majalah, koran dan makanan makanan ringan.

Menurut penjelasan bpk. Tukino, dahulu dibangunnya Bonbin adalah salah satu rencana relokasi pedagang-pedagang kaki lima dari 9 titik lokasi di sekitar UGM yang di gagas oleh Pak Rektor Koes. Dari penjelasan beliau kita ketahui bahwa Bonbin adalah sebuah relokasi. Pertanyaan yang cukup menyentil dari Bapak Tukino adalah “Bagaimana bisa sebuah tempat hasil dari relokasi kini ingin direlokasi lagi?”.

Pada kesempatan kali ini, Pak Tukino juga menitipkan sebuah tulisan kepada kami. Tulisan yang ia tulis dengan spidol merah diatas selembar kertas putih ini berbentuk ajakan kepada seluruh civitas untuk tidak mendukung rencana relokasi kantin Bonbin. Berikut adalah salinan dari tulisan tersebut:

- Yang mengusik keberdaan Pedagang di Bonbin adalag tidak tahu Sejarah dan tidak menghargai Ekonomi Kerakyatan Bp. Prof. Dr. Koesnadi Hardjo Soemantri, S.H.

-Beliau tahu bagaimana menuntaskan kemiskinan / orang miskin / wong cilik, tanpa meninggalkan orang / Rakyat miskin.

- Kami di Bonbin FIB UGM, berharap Bapak2 dan Ibu2 di UGM tanpa terkecuali, berempati pada kami / Pedagang.

- Sudah sekian lama kami merintis pasaran dan sudah banyak berkorban.
------------------------------------------------------------------------------------
Pada tahun 1987 Prof. Dr. Koesnadi Hardjosoemantri, S.H. membangun Bonbin berlandaskan cita-cita dalam mewujudkan visi ekonomi kerakyatan. 28 tahun berlalu. Beda pemimpin, maka beda pula arah dan visinya. Rektorat dalam rangka mewujudkan cita-cita membangun kampus edukopolis-  yaitu kampus yang hijau dan segar  sehingga mendukung proses pembelajaran - berniat memindahkan 12 pedagang bonbin dari area Humaniora.

Dalam rangka menghijaukan kampus, bangunan bonbin yang "suram" perlu untuk dihilangkan dari lingkungan Humaniora. Apakah rencana relokasi saat ini adalah wujud dari ketidaksanggupan pihak UGM untuk melindungi nilai-nilai ekonomi kerakyatan di lingkungan kampus? Benarkah cita-cita menjadi kampus kerakyatan sudah usang jika dibandingkan obsesi untuk membangun kampus hijau?

Mari kita aktif bergerak untuk mengawal isu kerakyatan semacam ini. Kita kawal hingga nantinya sikap transparansi dan kerakyatan dari kampus Gadjah Mada akan terus dijunjung tinggi melalui komunikasi dua arah yang lebih baik kedepanya.

Maka dari itu mari kita adakan diskusi dan audiensi yang akan dihadiri oleh pedagang-pedagang Bonbin, jajaran rektorat, dan juga mahasiswa. Diskusi dan audiensi itu sendiri adalah wujud dari musyawarah yang merupakan asas kenegaraan kita. Maka marilah seluruh Mahasiswa Sosial Humaniora, Pedagang Bonbin sangat mengharapkan dukungan, bukan hanya sekedar pernyataan melainkan juga dukungan tataran praktis kalian. Sepertinya di titik ini keberpihakan jelas diperlukan. Karena yang kita perjuangkan bukan sekedar urusan perut dan makan, tapi nilai kerakyatan yang dulu terus coba Prof. Koes perjuangkan.

Tunggu waktunya ! Bersiaplah !
Make Yourself at Bonbin
#savebonbin. #renovasijanganrelokasi

Salam !
Syahdan, dan kawan-kawan Yuparrela(wan)




Read More